Nelayan Pemburu Remis Bertaruh Nyawa di Laut Pesisir Mauk, Demi Bertahan Hidup Dan Secercah Harapan

Radarberitanasional.co.id
By -
0

TANGERANG KAB ||RBN.CO.ID- Di balik hamparan laut pesisir Pantura - Tangerang Utara, Desa Karang Serang Kec Sukadiri Kab Tangerang-Banten, tersimpan kisah keras perjuangan nelayan kecil yang kerap luput dari perhatian dunia luar. Salah satunya dialami Ugup Safa’at (24), warga Tegal Kunir Lor, Kecamatan Mauk, bersama kelompok rekan lain nya yang setiap hari menggantungkan hidup dari berburu remis, sejenis kerang kecil bernama ilmiah "Corbicula fluminea".(26/3/26).


Dengan peralatan seadanya, hanya bermodalkan rakitan gabus styrofoam sebagai alat bantu apung, Ugup harus menyelam di perairan dangkal yang keruh dan berlumpur. Risiko bukan hanya kelelahan, tetapi juga ancaman sengatan ubur-ubur dan hewan laut lainnya.


“Tantangan nya kalau kena ubur-ubur, sengatannya lumayan bikin nggak nyaman. Apalagi di air keruh, kita nggak bisa lihat apa-apa,” ujar Ugup.


Meski demikian, kondisi tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian. Ia bahkan mengandalkan insting dan pengalaman membaca arus laut untuk menentukan lokasi remis. “Kalau terasa melawan arus, biasanya itu tanda ada banyak remis di bawah lumpur,” ungkap nya lagi.


Namun di balik kerja keras itu, penghasilan yang didapat tergolong rendah. Dalam kondisi bagus, Ugup bisa memperoleh hingga 13 ember hasil tangkapan dengan berat sekitar 5 kilo grams per ember. Remis tersebut dijual dengan harga sekitar Rp25.000 per ember ukuran besar.



Harga yang jauh dari kata layak jika dibandingkan dengan risiko sebagai nelayan tradisionil dengan peralatan apa adanya, serta dengan segala resiko yang dihadapi setiap hari di laut.



Selain itu, pasang surut air laut turut menentukan jam kerja nelayan. Mereka harus menyesuaikan waktu melaut, bahkan hingga malam hari. “Kalau pasang siang, ya turun malam. Sudah biasa begitu,” katanya.



Sebagian hasil tangkapan bahkan tidak dijual, melainkan dimanfaatkan untuk pakan ternak bebek di rumah demi menekan kebutuhan hidup. Kondisi ini mencerminkan masih terbatasnya perhatian terhadap nelayan tradisional skala kecil, khususnya yang menggantungkan hidup dari hasil laut non-utama seperti remis.



Minimnya perlindungan kerja, alat keselamatan, hingga stabilitas harga menjadi persoalan yang masih dirasakan dan dianggap para pekerja konvensional ini yang menjadi kendala,seperti diakui pemuda ini karena terpaksa menggeluti profesi yang sebenar bukan pilihan nya.



Di tengah keterbatasan tersebut, Ugup dan nelayan lain nya tetap bertahan. Laut bukan sekedar tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang perjuangan yang menuntut keberanian setiap harinya,dengan terus ikhtiyar dibarengi do'a agar kedepan dengan secercah harapan akan bermuara pencapaian yang cemerlang sebagaimana impian.***



Pewarta : Dewi Sari
Editor      : Taer.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)