Fenomena Debu dan Lumpur di Jalur Pantura Pakuhaji: "Warga" Sesak, Jalan Rusak, Pemerintah Harus Tegas !

Radarberitanasional.co.id
By -
0
                                  Fotto Istimewa


TANGKAB ||RBN.CO.ID- Jalur lintas Pantura di sepanjang Jl Raya Pakuhaji-Sepatan, Kabupaten Tangerang-Banten, kini berada dalam kondisi sangat memprihatinkan. Butiran debu pekat menyelimuti jalan dan permukiman warga sa'at cuaca kering, sementara hujan sedikit saja mengubah ruas jalan menjadi kubangan lumpur licin dan berbahaya. Situasi ini bukan sekedar persoalan kenyamanan, tetapi diduga telah menjelma menjadi krisis lingkungan dan kesehatan bagi masyarakat pesisir utara Tangerang,(17/2/26).


Sorotan terhadap kerusakan ruas jalan Pantura Pakuhaji bukan hal baru. Berbagai media massa, televisi, hingga platform digital seperti YouTube dan TikTok berulang kali menampilkan keluhan warga dan aksi protes aktivis Pantura di Daerah Pemilihan (Dapil) 3 Kabupaten Tangerang. Namun, di tengah sorotan publik yang luas, kondisi di lapangan masih jauh dari kata membaik.

Dampak Proyek dan Lemahnya pengawasan kerusakan jalan diduga kuat berkaitan dengan aktivitas proyek pengurugan lahan skala besar di sepanjang koridor Pantura. Truk-truk bertonase tinggi keluar-masuk disinyalir tanpa pengendalian, membawa material tanah yang tercecer dan merusak badan jalan. Ketika kering, debu beterbangan mencemari udara; ketika hujan, tanah berubah menjadi lumpur tebal yang menempel di kendara'an dan jalan.


Ironisnya, jalur vital ini kerap dikunjungi pejabat pemerintah pusat dan daerah. Namun, hingga kini belum terlihat langkah konkret yang mampu menghentikan siklus debu-lumpur yang rasa merugikan warga. Lemahnya pengawasan dan minimnya sanksi terhadap pelaku usaha yang abai terhadap dampak lingkungan memperparah keadaan.
Ancaman Kesehatan dan Ekonomi Warga. Dampak paling terasa dirasakan warga yang tinggal dan usaha di sepanjang jalan.

Pedagang kaki lima dan pelaku UMKM mengeluhkan dagangan mereka tertutup debu, pelanggan berkurang, dan kesehatan terganggu akibat polusi udara harian. Anak-anak, lansia, dan pengguna jalan menjadi kelompok paling rentan terhadap penyakit pernapasan dan kecelakaan lalu lintas.

Kondisi ini semakin kontras dengan keberada'an fasilitas kesehatan besar di kawasan tersebut, yakni Rumah Sakit (RS) Pantura Hospital, yang menjadi rujukan masyarakat Pantura Dapil 3. Kehadiran rumah sakit modern di tengah lingkungan jalan yang rusak dan berpolusi mencerminkan ironi tata kelola wilayah, pelayanan kesehatan tersedia, namun sumber penyakit justru terkesan dibiarkan.


Potret Jalan Pantura. Hujan Jadi Kubangan, panas Jadi Asap Debu
Beberapa orang Warga yang tak ingin disebut nama pun tegas menggambarkan kondisi jalan Pantura Pakuhaji bakh seperti “kubangan pemandian kerbau” saat hujan, dan “kabut debu” saat kering. Lumpur liat pekat menempel di ban kendaraan, mempercepat kerusakan jalan, dan meningkatkan risiko kecelaka'an. Sebaliknya, debu halus beterbangan hingga masuk rumah dan warung warga, mencemari makanan serta pernapasan.

"Hadehh ampun..! Saya apalagiii... saban hari, nama nya kita yang dipinggir jalan ini usaha nya, itu debu kalau lagi panas, kalau ujan udaaah, abang lihat sendiri dach, mao ngeluh juga percuma ya udah pasrah," keluh pria 43 tahun akrab sapa'an toge, satu dari sekian pedagang yang bergabtung pas nasib peruntungan segari- hari pada hingar bingar nya laju ranmor dan bermandikan debu jalanan.


Fenomena ini menunjukkan seolah kegagalan manajemen lalu lintas proyek dan pengendalian dampak lingkungan, seperti penyiraman jalan, pembersihan rutin, atau kewajiban penutup muatan truk - standar dasar yang seharusnya diterapkan dalam proyek konstruksi.

" Iya, kemaren juga terakhir itu ada motor jatoh, gak kelihatan kali ketutup air lagi habis hujan. Terus mobil truk, ban-nya meledak saya sampek kaget, pas keluar warung mogok ditengah jalan yang rusak, udaahh makin sumpek jasa, maceeett,"timpal seorang ibu yang minta di privasi jati diri nya.

Tuntutan "Warga" : Tegas pada Pelaku, Cepat pada Solusi
Aktivis dan masyarakat Pantura mendesak Pemerintah Kabupaten Tangerang dan pemerintah pusat untuk Menindak tegas perusaha'an proyek-proyek diduga  yang buat merusak dan mencemari jalan Pantura. Mewajibkan pengendalian debu dan lumpur (penyiraman, pembersihan, penutup muatan).
Memperbaiki dan memperkuat konstruksi jalan yang rusak akibat truk berat, menetapkan jalur khusus kendara'an proyek agar tidak merusak jalan umum.

Melakukan pengawasan terpadu lintas dinas secara rutin.
Desakan ini semakin mendesak mengingat hanya beberapa hari lagi masyarakat memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H. Jalur Pantura Pakuhaji-Sepatan merupakan urat nadi aktivitas warga, distribusi logistik, dan mobilitas ibadah. Jalan rusak dan berdebu tidak hanya mengganggu ekonomi, tetapi juga mengurangi kekhusyukan masyarakat dalam menyambut bulan suci.

Sa'atnya Negara Hadir di Jalan Pantura kerusakan Jalan Raya Pantura Pakuhaji bukan sekedar persoalan teknis infrastruktur, tetapi cermin keberpihakan pemerintah terhadap keselamatan dan kualitas hidup warganya. Jalan yang layak adalah hak publik; udara bersih adalah kebutuhan dasar, dan lingkungan sehat adalah tanggung jawab negara. Warga Pantura tidak menuntut kemewahan, hanya jalan yang tidak berdebu sa'at kering dan tidak berlumpur saat hujan. Dengan ketegasan regulasi dan keberanian penegakan hukum, masalah ini dapat diselesaikan.

Pewarta : Abdul Aziz (PMJ)
Editor      : Dewi Sari.

"Salam hormat,
Putra Mekar Jaya, Kecamatan Sepatan Kab. Tangerang-Banten."

.


                    

                   Literasi: WA (0813 8282 2975)
Boks Redaksi :
Anda Klik tekan lama buka tautan di bawah ini, bulatan CROME (Open) klik/tekan berhasil.
👇
https://radarberitanasional.co.id/pages/redaksi-box


Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)