Kamis,15/01/2026,17.04.23
TANJUNG JABUNG TIMUR|| RBN.CO.ID-Dunia pendidikan kembali tercoreng. Seorang guru pria SMK Negeri 3 di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswanya sendiri.
Insiden memilukan dan memalukan ini konon kabar nya terjadi di lingkungan sekolah, Kecamatan Berbak, dan terekam jelas dalam video yang kini tengah viral di medsos.
Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang guru pria terlibat adu argumen dengan para siswa laki-laki yang kebanyakan.
Suasana yang awalnya tampak berupa cekcok verbal berubah menjadi kericuhan, hingga berujung aksi kekerasan secara bersama-sama terhadap sang guru. Peristiwa ini menuai kecaman luas karena terjadi di institusi pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi etika dan adab.
Berdasarkan informasi yang beredar, keributan diduga di picu oleh sebab pernyata'an sang guru yang diduga menyinggung kondisi ekonomi orang tua seorang siswa. Namun, alih-alih diselesaikan secara edukatif, situasi justru berkembang liar hingga siswa berani memaki guru dengan kata-kata kasar dan melakukan tindakan fisik.
Guru yang menjadi korban diketahui bernama Agus Saputra. Ia secara resmi melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, menuntut perlindungan serta keadilan atas tindakan anarkis yang dialaminya.
Kabar nya,pengeroyokan itu terjadi pada Selasa, 13 Januari 2026, sa'at kegiatan belajar mengajar masih berlangsung. Dalam klarifikasinya, Agus mengungkapkan bahwa insiden bermula ketika ia melintas di depan ruang kelas. Saat itu, seorang siswa melontarkan kata-kata tidak pantas yang dinilainya sudah melewati batas etika.
“Perilaku tidak sopan itu saya tegur, namun justru berujung makian dan keributan yang semakin membesar,” jelasnya,seperti pada kutipan Ntvnews.id .
Ironisnya, guru yang seharusnya dilindungi justru menjadi sasaran amarah dan kekerasan. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius terkait pembinaan karakter siswa, pengawasan sekolah, serta lemahnya penegakan disiplin di lingkungan pendidikan.
Hingga kini, publik menunggu langkah tegas dari pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Kasus ini dinilai tidak boleh diselesaikan secara internal semata, melainkan harus menjadi momentum evaluasi besar terhadap krisis moral dan kedisiplinan di dunia pendidikan.***
Pewarta : Dewi Sari/Taer
Sumber : Berbagai Platform Medsos Umum.
Posting Komentar
0Komentar